Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Minggu, 03 Januari 2016

ANALISIS KESALAHAN ARTIKEL

Analisis Kesalahan pada Artikel
Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Membaca

Pembelajaran bahasa menjadi penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan seseorang dalam berkomunikasi. Melalui aktivitas berbahasa seseorang dibekali dengan pengetahuan formal bahasa, baik yang terkait dengan pengetahuan kaidah bahasa, proses berbahasa, maupun ketrampilan berbahasa. Tarigan (1995), menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Ketrampilan ini dapat dikusai oleh seseorang jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh-sungguh. Akan tetapi, yang menjadi inti kajian di sini adalah pada ketrampilan membaca.
Aktivitas membaca merupakan ketrampilan berbahasa yang bertujuan untuk memahami ide, gagasan, serta perasan dalam teks. Dalam proses membaca seseorang akan mengalami proses berpikir untuk memahami ide dan gagasannya secara luas (divergen thingking). Proses membaca sangat terkait hubungannya dengan faktor pengembangan berpikir, berdasakan pengalaman yang mendasarinya. Dimana pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui menyimak, pengamatan, dan diskusi tentang suatu materi bacaan.
Tujuan dan manfaat aktivitas membaca tersebut di atas tidak secara bersamaan dapat dicapai, tetapi satu persatu mana yang menjadi prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan, maka diperlukan trobosan-trobosan yang efektif. Sebagai sarana pendukung proses tersebut, penting untuk dipilih kualitas materi yang akan menjadi pokok bacaan, sehingga informasi yang diperoleh akan lebih bermakna. Selain itu, kemudahan dalam memperoleh buku atau sumber bacaan mempengaruhi terhadap frekuensi seseorang dalam membaca. Semakin sering seseorang melakukan aktivitas membaca berarti semakin banyak pula informasi yang diperolehnya. Seseorang secara umum kesulitan untuk berfikir secara multiple perpestif, divergen thingking, dan positif thingking dalam menyelesaikan masalah.
Kegiatan membaca menurut anggapan beberapa orang merupakan aktivitas yang mudah dan tidak memerlukan olah pikir yang mendalam. Padahal pada kenyataannya, proses membaca kritis membutuhkan pengetahuan, pemikiran dan daya konsentrasi yang tinggi. Untuk dapat memahami isi suatu bacaan seseorang harus memahami kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf sehingga muncul pemahaman yang jelas mengenai suatu bacaan. Sebenarnya kegiatan membaca tidak hanya sebatas memahami isi/informasi bacaan saat itu saja (sort term memory), tetapi dianjurkan dipahami untuk jangka panjang (long term memory).
Setelah kita dapat memahami dan menyimpan dalam ingatan jangka panjang, pastilah seseorang pembaca kritis akan mampu menngambil pesan-pesan informatif yang membangun dirinya. Tentunya Jika teks yang dibaca itu baik (keterbacaannya tinggi) akan dapat mengarahkan dan membimbing perilaku pembaca menjadi baik pula. Pembaca kritis secara langsung maupun tidak langsung akan terjadi perubahan sikap, perilaku (,) dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah kita mengetahui pentingnya membaca, pertanyaan yang muncul pada diri kita yaitu: “mengapa kita tidak membudayakan membaca sejak dini?”. Tertinggalnya minat dan kemauan membaca di masyarakat merupakan salah satu penyebabkan dari ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan bangsa ini. Oleh karena itu, sangat diperlukan menumbuhkan literasi membaca setiap hari dengan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran supaya terjadi perubahan hidup menjadi lebih baik dan kritis terhadap situasi.
Singkatnya, berpikir kritis pada saat membaca merupakan kegiatan yang mendalam, evaluatif, analitis, dan bukan mencari kesalahannya saja. Seorang pemikir kritis akan mampu memberikan penyelesaian masalah dari beberapa sudut pandang. Tumbuh kembangnya seorang pemikir kritis akan mempunyai sifat atau pribadi yang percaya diri, bijaksana, kreatif, teliti, dan keyakinan yang mantap.



Analisis kesalahan pada artikel yang berjudul Berpikir Kritis Melalui Pembelajaran Membaca adalah sebagai berikut:
NO.
KESALAHAN
PERBAIKAN
KETERANGAN
ANALISIS
1.         
Melalui aktivitas berbahasa seseorang dibekali dengan pengetahuan formal bahasa, baik yang terkait dengan pengetahuan kaidah bahasa, proses berbahasa, maupun ketrampilan berbahasa.
Melalui aktivitas berbahasa seseorang dibekali dengan pengetahuan formal bahasa, baik yang berkaitan dengan pengetahuan kaidah bahasa, proses berbahasa, maupun keterampilan berbahasa.
Terjadi ketidak sesuaian kalimat dan kesalahan pada diksi (paragraf 1, baris ke 4-5).
Ø  Ketidak sesuaian kalimat terdapat pada kata terkait, yang lebih sesuai apabila ditulis dengan kata berkaitan.
Ø  Kesalahan diksi terjadi pada kata ketrampilan, yang seharusnya tertulis keterampilan. Kata ketrampilan bukan merupakan kata baku.

2.         
yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Terjadi kesalahan pada ejaan (paragraf 1, baris ke 6).
Ø  Kesalahan ejaan terjadi karena kurangnya tanda koma pada akhir kata membaca, karena sebelum kata dan harus ada tanda baca koma (,) .
3.         
Ketrampilan ini dapat dikusai  oleh seseorang jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh-sungguh.
Keterampilan ini dapat dikuasai oleh seseorang jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh-sungguh.
Terjadi kesalahan pada diksi (paragraf 1, baris ke 7).
Ø  Kesalahan diksi terjadi pada kata dikusai yang seharusnya tertulis dikuasai dan pada kata ketrampilan, yang seharusnya tertulis keterampilan. Kata ketrampilan bukan merupakan kata baku.
4.         
Proses membaca sangat terkait hubungannya dengan faktor pengembangan berpikir, berdasakan pengalaman yang mendasarinya.
Proses membaca erat kaitannya dengan faktor pengembangan berpikir, berdasakan pengalaman yang mendasarinya.
Terjadi ketidak sesuaian dalam pemilihan kata (paragraf 2, baris ke 4)
Ø  Ketidak sesuaian kata terdapat pada kata sangat terkait hubungannya yang lebih sesuai apabila ditulis dengan kata erat kaitannya.
5.         
Dimana pengalaman tersebut
Di mana pengalaman tersebut
Terjadi kesalahan pada ejaan (paragraf 2, baris ke 6).
Ø  Kesalahan ejaan terjadi karena kata Dimana seharusnya kata Di tertulis terpisah dengan kata mana, karena menunjukkan tempat. Kata Dimana seharusnya tertulis Di mana.
6.         
Tujuan dan manfaat aktivitas membaca tersebut di atas tidak secara bersamaan dapat dicapai, tetapi satu persatu mana yang menjadi prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan dan manfaat aktivitas membaca tersebut di atas tidak secara bersamaan dapat dicapai, tetapi dengan memilih mana yang menjadi prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.
Terjadi ketidak sesuaian kata dalam kalimat  (paragraf 3, baris ke 2).
Ø  Ketidak sesuaian kata terdapat pada kata satu persatu mana yang lebih sesuai apabila ditulis dengan kata dengan memilih mana.
7.         
Untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan, maka diperlukan trobosan-trobosan yang efektif.
Trobosan-trobosan yang efektif juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan.
Terjadi kesalahan pada pemilihan kata (paragraf 3, baris ke 3, 4,5).
Ø  Ketidak sesuaian kata terdapat pada kata Untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan, maka diperlukan trobosan-trobosan yang efektif, yang lebih baik tertulis dengan Trobosan-trobosan yang efektif juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan. Hal ini dikarenakan dengan dibalik penempatan katanya akan membuat pembaca lebih mudah dalam memahami maksud tulisan.
8.         
Seseorang secara umum kesulitan untuk berfikir secara multiple perpestif, divergen thingking, dan positif thingking dalam menyelesaikan masalah.
Berbeda dengan kebanyakan orang saat ini, karena sebagian besar masyarakat kesulitan untuk berfikir secara multiple perpestif, divergen thingking, dan positive thingking dalam menyelesaikan masalah.
Terjadi ketidak sesuaian kata, terjadi kesalahan ejaan dan diksi (paragraf 3, baris ke 11)
Ø  Ketidak sesuaian kata terdapat pada Seseorang secara umum kesulitan untuk berfikir secara, yang lebih baik diganti dengan Berbeda dengan kebanyakan orang saat ini, karena sebagian besar masyarakat kesulitan untuk berfikir secara. Hal ini dikarenakan dengan digantinya kata tersebut akan membuat pembaca lebih mudah dalam memahami maksud tulisan.
Ø  Kesalahan pada ejaan terjadi pada kata dan yang seharusnya tertulis dengan dan, ini dikarenakan kata dan bukan merupakan kata asing yang harus ditulis dengan miring (italic).
Ø  Kesalahan diksi terjadi pada kata positif yang seharusnya tertulis positive. Hal ini dikarenakan penulisan kata positif dalam bahasa asing salah.
9.         
Tentunya Jika teks yang dibaca itu baik (keterbacaannya tinggi) akan dapat mengarahkan dan membimbing perilaku pembaca menjadi baik pula.
Jika teks yang dibaca adalah teks yang baik, maka pelan-pelan akan dapat mengarahkan dan membimbing perilaku pembaca menjadi baik pula.
Terjadi kesalahan pada pemilihan kata (paragraf 5, baris ke 4,5).
Ø  Ketidak sesuaian kata terdapat pada kata Tentunya Jika teks yang dibaca itu baik (keterbacaannya tinggi), yang lebih baik tertulis dengan Jika teks yang dibaca adalah teks yang baik, maka pelan-pelan. Hal ini dikarenakan dengan digantinya kata akan membuat pembaca mudah dalam memahami maksud tulisan.
10.     
Pembaca kritis secara langsung maupun tidak langsung akan terjadi perubahan sikap, perilaku  dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembaca kritis secara langsung maupun tidak langsung akan mengalami perubahan sikap, perilaku , dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Terjadi ketidak sesuaian dalam pemilihan kata (paragraf 5, baris ke 6).
Ø  Ketidak sesuaian kata terjadi pada kata terjadi, yang lebih sesuai apabila ditulis dengan kata mengalami.


KESIMPULAN
Kesalahan yang terjadi pada penulisan artikel biasanya terdiri atas kesalahan diksi, kesalahan ejaan, dan kesalahan pada pemilihan kata dan kohesi koherensinya. Kesalahan-kesalahan tersebut masing-masing akan dijelaskan di bawah ini.
1.        Kesalahan Diksi
Diksi adalah pemilihan kosakata yang tepat dan selaras dengan penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan, sedangkan kosakata adalah perbendaharaan kata dari bahasa tertentu. Faktor yang menjadi penyebab kesalahan penulisan kosakata misalnya terjadi karena perbedaan penulisan dan ujaran seperti pada kata keterampilan (baku), secara lisan ketrampilan (tidak baku) atau pada kata apotek (baku) dan apotik (tidak baku). Kesalahan diksi juga dapat terjadi karena pengaruh bahasa asing, seperti pada kata positif (baku) positive (tidak baku).
2.        Kesalahan Ejaan
Kesalahan ejaan biasanya terjadi pada penulisan kata yang berawalan di-, ke-, dan dari-. Ketiga awalan tersebut biasanya menunjukkan kata tempat yang penulisannya harus dipisah supaya membedakan kata yang menunjukkan tempat dan tidak. Penulisan kata yang berawalan di-, ke-, dan dari- adalah sebagai berikut.
a.       di-       è kain itu terletak di dalam lemari; di mana Fatma sekarang?
b.      ke-      èke mana saja kamu selama ini?
c.       dari-   è Ia datang dari Yogyakarta
Kesalahan ejaan yang sering juga terjadi adalah penulisan tanda koma (,). Kesalahan ejaan tanda koma adalah sebagai berikut:
a.       Penulisan tanda koma di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan, contoh: yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
b.      Penulisan tanda koma di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat, contoh: Oleh karena itu, sangat diperlukan menumbuhkan literasi membaca setiap hari.

3.        Ketidak Sesuaian Kata Maupun Kalimat
Kalimat adalah suatu satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, berisi informasi yang lengkap, dan memiliki intonasi yang final. Intonasi yang final merupakan nada akhir (turun naiknya nada apabila berupa kalimat yang diujarkan), dan berupa tanda baca. Sebuah kalimat tersusun atas kata atau kata-kata. Kata-kata dalam kalimat berkelompok dan membentuk satuan-satuan yang mempunyai fungsi atau jabatan tertentu. Fungsi atau jabatan dalam kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek, keterangan, dan juga pelengkap.
Pada artikel di atas kesalahan yang terjadi adalah penggunaan kata yang kurang efektif dan penggunaan kata yang tidak baku. Ketidakefektifan kalimat atau kata seperti pada kalimat berikut Untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan, maka diperlukan trobosan-trobosan yang efektif. Pada kalimat tersebut akan lebih mudah dimengerti apabila ditulis sebagai berikut Trobosan-trobosan yang efektif juga sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca seseorang sebagai sarana pengembangan penalaran dan kekritisan.

Kesalahan yang paling fatal adalah kesalahan dalam pemilihan kata dan penyusunan kalimat. Hal ini dikarenakan penyusunan kalimat merupakan hala yang paling mempengaruhi pemahaman dari pembaca.



Daftar Pustaka
Siti Maslakhah, dkk. 2011. Bahasa Indonesia (Panduan Menulis Karya Ilmiah). Yogyakarta: Kanwa Publisher.




Selasa, 06 Oktober 2015

FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

FUNGSI DAN PERINGKAT BAHASA INDONESIA

Berbicara tentang Negara pasti tak lepas dari bahasa yag digunakan di negara tersebut, sebagai contoh adalah bahasa Indonesia. Bahasa merupakan komponen penting dalam sebuah negara maka dari itu bahasa memiliki kedudukan dan fungsi yang tidak dapat disepelekan.



  • ARTI PENTING BAHASA


     Sebagai orang Indonesia, sudah sepantasnya kita menggunakan bahasa Indonesia dan menyadari seberapa pentingnya kita berbahasa Indonesia. Sekolah saya saat ini, mengajarkan kepada kita betapa pentingnya pelajaran itu. Kita belajar bukan hanya untuk meningkatkan nilai kita pada saat kita menerima rapor kenaikan kelas, tetapi kita belajar karena semua pengetahuan yang kita dapat sekarang ini dari semua pelajaran berguna untuk kehidupan kita di masa depan . Banyak orang meremehkan Bahasa Indonesia, tetapi saya menyadari justru salah satu sikap patriotisme yang bisa kita tunjukkan kepada Bangsa Indonesia adalah dengan berbahasa Indonesia.

 Bagaimana kita bisa menjadi seorang pemimpin Indonesia yang kuat ketika pemimpinnya sendiri tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Ini sangat memalukan. Sebagai orang Indonesia, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah salah satu kewajiban kita.

Kita bisa- bisa saja berbahasa Inggris karena ini adalah suatu prestasi yang bagus, tetapi jangan sampai kita lupa dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang bisa membuat seluruh pulau-pulau di seluruh Indonesia menjadi satu. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali dialek dan bahasa lain, tapi bahasa Indonesialah yang menyatukan bangsa Indonesia.






  • FUNGSI BAHASA


Fungsi bahasa sendiri dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fungsi bahasa secara umum dan secara khusus.

A.    Fungsi bahasa secara umum.
Dalam literatur bahasa, fungsi bahasa adalah sebagai berikut:

1. Bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri.
Dalam hal ini yaitu bahasa memiliki fungsi untuk mengungkapkan gambaran ataupun maksud, gagasan, serta perasaan. Dengan menggunakan bahasa kita dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. Ada 2 unsur yang mendorong kita untuk mengekspresikan diri, yaitu :  

  • Agar menarik perhatian orang lain terhadap diri kita.
  •  Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
2. Bahasa sebagai sarana komunikasi.
Bahasa merupakan saluran maksud seseorang, yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi, berarti memiliki tujuan agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran utama perhatian seseorang. Bahasa yang dikatakan komunikatif karena bersifat umum. Selaku makhluk sosial yang membutuhkan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu verbal dan non verbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat / media bah a sa (lisan dan tulis an), sedangkan berkomunikasisec ara non verbal dilakukan menggunakan media berupa aneka symbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalu lintas, sirene setelah itu diterjemahkan kedalam bahasa manusia.

B. Fungsi bahasa secara khusus:

1. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari- hari.
Manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan komunikasi dengan makhluk sosialnya. Komunikasi yang berlangsung dapat menggunakan bahasa formal dan non formal.

2. Membuat Seni (Sastra).
Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni, seperti syair, puisi, prosa dll. Terkadang bahasa yang digunakan yang memiliki makna denotasi atau makna yang tersirat. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman yang mendalam agar bisa mengetahui makna yang ingin disampaikan.

3. Mempelajari bahasa-bahasa kuno.
Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa atau kejadian dimasa lampau. Untuk mengantisipasi kejadian yang mungkin atau dapat terjadi kembali dimasa yang akan datang, atau hanya sekedar memenuhi rasa keingintahuan tentang latar belakang dari suatu hal. Misalnya untuk mengetahui asal dari suatu budaya yang dapat ditelusuri melalui naskah kuno atau penemuan prasasti-prasasti.


  • PERISTIWA PENTING PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


1.      Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

2.      Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertama kalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

3.      Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

4.      Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

5.      Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

6.      Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

7.      Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

8.      Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti Ejaan Van Ophuijsen yang terjadi sebelumnya.

9.      Tanggal 28 Oktober sd 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus.

KEDUDUKAAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting yang tercantum didalam:

1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia".

2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan lambing Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa "Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia".
Maka posisi bahasa Indonesia sebagai :

  •  Bahasa Nasional 
  • Posisinya berada diatas bahasa- bahasa daerah. Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
  •  Lambang kebanggaan Nasional.
Sebagai lambang kebanggaan Nasional bahasa Indonesia memancarkan nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga, menjunjung dan mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bangga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.

SUMBER:

·         http://www.pulsk.com/68888