Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Rabu, 23 April 2014

Manusia dan Penderitaan

MANUSIA DAN PENDERITAAN



      Berbicara tentang Manusia Dan Penderitaan, setiap manusia pasti tak akan pernah lepas dari yang namanya penderitaan. Penderitaan merupakan kodrat yang harus dijalani Manusia, karena manusia hidup untuk terus berjuang agar tetap berlangsung kehidupannya, Penderitaan mempunyai tingkatan tersendiri, dari yang berat sampai yang rendah. Tergantung bagaimana manusia itu sendiri menanggapi penderitaan yang dihadapinya. Tuhan memberikan Manusia cobaan bukan karena tidak cinta terhadap makhluknya, melainkan sebaliknya yaitu untuk menguji seberapa besar tanggung jawab manusia terhadap dirinya dan masalah yang dihadapinya. Penderitaan sendiri berasal dari kata derita yaitu berasal dari bahasa sanskerta yang mempunyai arti menahan atau menanggung. Yang dapat kita jabarkan penderitaan adalah menahan atau menanggung sesuatu, baik menyenangkan atau   tidak menyenangkan. Dua hal tersebut merupakan hal yang pasti dihadapi manusia seperti halnya yang sering kita dengar “dibalik cobaan pasti ada hikmah dibaliknya” tanpa kita sadari kebaikan pasti kita dapat asal kita sabar dan mampu untuk menghadapi cobaan atau penderitaan hidup yang menimpa kita. Tuhan pun telah memberikan perintah kepada umatnya untuk tetap berjuang, karena Tuhan tak akan merubah nasib Manusia tanpa ia merubahnya sendiri. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan penderitaan yang mungkin dalam tulisan ini tidak dibahas, diantaranya adalah siksaan, siksaan sendiri bisa mempunyai dampak yaitu dapat menimbulkan rasa sakit yang dapat pula menyebabkan kekalutan mental atau gangguan jiwa. Seperti halnya para pahlawan pada masa penjajahan dimana presiden Soekarno mengalami penderitaan kala memperjuangkan kemerdekaan RI, beliau dikurung didalam penjara kolonial yang kita sendiri bisa membayangkan seperti apa, dan betapa menyiksanya ketika itu tetapi Soekarno tidak menyerah tetap optimis guna memperjuangkan apa yang diyakininya dan hendak dicapainya. Dari hal inilah kita dapat mengambil hikmah, penderitaan dari cobaan harusnya menjadikan kita lebih semangat dan dalam menjalani hidup agar tercapai semua cita-cita kita.

Ada Berbagai berbagai macam kategori penderitaan yaitu :

A.  Penderitaan karena perbuatan yang tidak terpuji oleh manusia.

Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan yang tidak terpuji yang telah dilakukanya dapat terjadi antara sesama manusia dan dapat terjadi pula manusia dengan lingkungan sekitar (alam) yang menyebabkan penderitaan terhadap manusia yang tidak melakukan hal tersebut.
Berikut contoh penderitaan :

Ø  Penderitaan Karena perbuatan tidak terpuji terhadap sesama manusia.
Perbuatan semena-mena seorang majikan terhadap pembantu rumah tangga yang menyekap, memukul, bahkan memperkosanya. Dari hal itu manusia yang disiksanya mengalami penderitaan, dan yang ,melakukanya pun seharusnya diganjar dengan hukuman yang setimpal, agar dia juga merasakan penderitaan yang dialami pembantu tersebut.

Ø  Penderitaan karena perbuatan manusia terhadap lingkungan (alam) yang menyebabkan penderitaan terhadap manusia lain yang tidak melakukan hal tersebut.
Perbuatan manusia yang tidak mencintai alam dapat mengakibatkan penderitaan terhadap manusia lain yang tidak melakukannya, seperti halnya para penebang liar yang menggunduli hutan tanpa melakukan Reboisasi. Hal ini dapat menyebabkan banjir atau tanah longsor yang mengakibatkan manusia lain kehilangan tempat tinggal, lahan untuk bertanam yang dari hal tersebut manusia merasa menderita karena tidak memiliki tempat tinggal dan harus mencari bahan makanan dari tempat lain pula.

B.  Penderitaan karena penyakit.
Penderitaan dapat pula terjadi karena penyakit yang dimilikinya, tetapi dengan kesabaran dan tawakal dalam menghadapi penderitaan tersebut dapat menghasilkan hal yang luar biasa.
Berikut adalah contoh dari hal tersebut diatas :
Ø  Seorang anak laki-laki yang mempunyai cacat mata (buta) sejak lahir, karena memiliki orang tua yang hebat, sabar, tawakal walaupun banyak orang yang menghina kepadanya. Ia tetap disekolahkan dan memiliki kecerdasan yang luar biasa hingga memperoleh pendidikan di Perancis dan mendapat gelar Doktor di Universitas D’Sourbone beliau adalah Prof.Dr.Thaha Husein, yang sekarang merupakan Guru besar Universitas di Kairo, Mesir.

Dampak Penderitaan

        Orang yang mengalami penderitaan bisa mendapatkan dampak dari hal tersebut, yaitu dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positif sendiri dia dapat bersikap optimis untuk mengatasi penderitaan tersebut, dengan berfikir bahwa penderitaan harus dilawan, maka akan ada kebahagiaan untuknya. Orang yang memiliki sikap seperti ini biasanya kreatif, inovatif, pantang menyerah.
Sedangkan dampak negatifnya adalah mereka  mempunyai rasa penyesalan, kecewa, putus asa, sikap seperti ini juga sering kita dengar dalam ungkapan sehari-hari, yaitu “nasi sudah menjadi bubur”,
Hal inilah yang perlu kita hindari.

Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan serta contoh diatas hendaknya kita dapat menentukan sikap, bagaimana kita menghadapi suatu permasalahan dengan sikap positif ataukah negatif, serta mengerti apa yang akan kita dapat jika kita menanggapi dengan sikap tersebut sehingga menjadikan kita lebih bijak dalam menanggapi ujian berupa penderitaan hidup yang harusnya akan menjadikan kita lebih baik di kemudian hari.


Selasa, 15 April 2014

Manusia dan Keindahan

Manusia dan Keindahan


Banyak sekali penafsiran tentang keindahan, diantaranya ada yang mengartikan keindahan adalah suatu komposisi yang pas ketika dilihat pada waktu yang pas sehingga menimbulkan kecocokan atau keselarasan dalam pandangan.
Dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia)pun mengartikan bahwa keindahan merupakan keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus, benar, atau elok. Kita lihat saja negara kita sendiri, negara kita penuh dengan bermacam-macam keindahan.

Semua keindahan seolah ada dimanapun kita menginjakkan kaki dipelosok tanah air kita ini. Tak hanya dari bawah laut saja kita bisa menikmati keindahan Tanah Air kita ini, dari pegunungan, pantai, danau, bahkan seni dan budaya negeri kita ini pun memiliki keindahan yang tak ternilai harganya, yang mungkin seluruh bangsa didunia ini ingin memiliki berbagai macam keragaman negara kita  yang tak dimiliki negara tersebut.
Ada beberapa contoh keindahan alam yang dimiliki indonesia selain keaneka ragaman hayati bawah laut seperti terlihat pada gambar diatas tadi.
Keindahan merupakan suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata lain keindahan itu baru dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk. Dengan bentuk itu keindahan berkomunikasi. Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk pembedaan itu dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah “beauty” (keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini kadang-kadang dicampuradukkan saja.
Keindahan pun mempunyai beberapa arti yaitu : keindahan dalam arti estetis murni seperti yang bangsa Yunani paparkan untuk keindahan berdasarkan penglihatan dan harmonia serta keindahan berdasarkan pendengaran yang mereka sebut dengan “symetria”, keindahan dalam arti sempit dalam penglihatanya hanya menyangkut benda-benda yang diserapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.
Sedangkan keindahan dalam arti luas dapat meliputi : keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual.

Diantaranya adalah :
 seperti keindahan alam bawah laut kita

           Keindahan bawah laut.


               Keindahan pegunungan jayawijaya.

 Keindahan danau toba.

 Keindahan kep.Raja Ampat.

Saya ambil contoh saja keindahan seni serta budaya pewayangan yang ada di Indonesia, yang memiliki banyak nilai, seperti nilai historis, filosofis, serta banyak lagi nilai lain yang terkandung didalamnya.

 WAYANG adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Dalam Seni Wayangpun memiliki beberapa arti salah satunya yaitu setiap karakter Wayang mempunyai filosofi tersendiri sebagai perlambangan, contohnya adalah BIMA dalam Pandawa Lima yang melambangkan keperkasaan seorang lelaki. Untuk mengetahui salah satu cerita Wayang silahkan klik disini .

Perlunya menjaga keindahan alam, seni serta budaya kita merupakan tanggung jawab kita untuk generasi kita selanjutnya, karena hal diataslah negara kita bisa disebut sebagai negara yang kaya akan keindahan.

PEWAYANGAN



PERANG BARATAYUDHA

Diceritakan Begawan Abiyasa mempunyai 3 putra, Raden Dhestarastra, Raden Pandhudewanata dan Raden Widura. Ketiga putra Begawan Abiyasa tersebut masing-masing mempunai kecacatan, Raden Dhestarasta adalah seorang Raden yang buta. Raden Pandhu memiliki leher pendek sedangkan Raden Widura memiliki kaki yang cacat yaitu kedua kakinya tidak sama. Karena Raden Destarasta tersebut buta, sehingga yang menjadi Ratu adalah Raden Pandhu, yang memiliki nama Prabu Pandhudewanata. Prabu Pandhudewanata dikaruniai 5 putra, sehingga disebut Pandawa lima. Putra Pandhu yang sulung bernama Raden Yudhistira (Puntadewa), yang kedua adalah Raden Werkudara, anak tengah Prabu Pandhu bernama Raden Janaka dan yang terakhir adalah putra kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa.
Raden Dhestarastra mempunyai 100 putra yang disebut kurawa, yang mempunai arti kurawa berjumlah seratus dengan jumlah putra 99 dan seorang putri yang bernama Dewi Dursilawati. Anak pertama adalah Raden Jaka Pitana atau Duryudana. Anak yang kedua adalah Raden Pursasana, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citaraksa dan Raden Citraksi. Prabu Pandhu meninggal ketika Pandawa masih sangat kecil. Hal itu menjadikan kerajaan Ngastina dititipkan atau dipasrahkan kepada Adipati Dhestarastra ang merupakan Prabu Wakil. Sang Prabu wakil kemudian meninggal. Raden Jaka Pitana menjadi ratu Ngastina yang disebut Prabu Duryudana.
Ketika Pandawa sudah dewasa, Raden Punta sudah menjadi Ratu di Ngamarta. Meskipun Raden Durudan sudah menjadi Ratu, namun Prabu Puntadewa tetap bersikeras meminta kembali Keraton Ngastina. Akan tetapi para Kurawa bersikeras untuk tidak mau mengembalikan Keraton Ngastina kepada Pandawa. Sehingga pada akhirnya terjadi perang saudara yang besar yang disebut Perang Barataudha. Perang Baratayudha adalah perang saudara yang memperebutkan warisan. Prabu Duryudana marah dan tidak mau mengembalikan Nagari Ngastina meskipun hanya diminta setengah dari Nagari Ngastina. Prabu Puntadewa juga marah dan masih tetap meminta kembali Nagari Ngastina. Pada akhir perang Barathayudha, Kurawa meninggal semua dan hanya tersisa cucu dari Kurawa yaitu Raden Parikesit.

Adapun babak di dalam perang Baratayudha adalah sebagai berikut:

·         Babak 1: Kresna Duta (Seta Gugur)
Pandawa sudah 13 tahun lamanya mengalami pembuangan di hutan. Sehingga sudah waktunya Pandawa meminta kembali Nagari Ngastina saking Kurawa. Oleh karena itu Pandawa meminta bantuan Sri Kresna yang merupakan duta dari Pandawa. Akan tetapi Kurawa tidak memberikan kekuasaan kepada Pandawa. Mengetahui hal tersebut, Sri Kresna marah dan mengobrak-abrik Ngastina. Para Kurawa menjadi takut akan kejadian tersebut. Kemudian pada akhirnya Bathara Darma datang dan dapat melerai sang triwikrama. Sri Kresna pulang menemui Pandawa dan menyampaikan hasil dari pertemuannya dengan Kurawa.

·         Babak 2 : Tawur (Bisma Gugur)
Bisma, senapati Ngastina yang sakti meninggal setelah dipanah oleh Dewi Srikandi. Pada dasarnya Dewi Srikandi tersebut takut, namun Dewi srikandi menjadi seorang wanita yang berani setelah raganya dirasuki sukma dari Dewi Amba. Dewi Amba adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bisma. Akantetapi Bisma tidak mengingkari sumpahnya, yaitu tidak akan menikah. Dewi Amba tanpa sengaja meninggal karena terkena senjata dari Bisma, dan berkata bahwa Bisma akan meninggal di Perang besar oleh seorang satria perempuan dari Nagari Cempalaradya.

·         Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur)
Setelah Resi Bisma meninggal, Prabu Bogadenta menjadi seorang  Senapati. Sedangkan Arjuna menjadi Senapati Pandawa yang diapit oleh Werkudara. Prabu Bogadenta mengamuk kaena menengar kabar tersebut. Sehingga hal tersebut membuat Arjuna perang melawan Bogadenta. Prabu Bogadenta kalah dengan Arjuna, oleh sebab itu Prabu Bogadenta digantikan oleh Prabu Gardapati. Akan tetapi pada akhirnya Prabu Gardapati juga dikalahkan oleh Pandawa.

·         Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur)
Abimanyu adalah putra dari Arjuna dengan Dewi Subadra. Abimanyu gugur di perang besar yang merupakan satria muda dari Pandawa. Pada saat perang, Abimanyu membunuh para satria dari Kurawa, yaitu Laksmana, putra Duryudana. Prabu Duryudana marah dan mengutus para prajurit supaya membunuh Abimanyu. Ketika Dursasana perang melawan Abimanyu, Abimanyu dikroyok oleh para prajurit Kurawa dan gugur (meninggal) terkena Gada dari Dursasana.

·         Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur)
Pada awalnya Raden Burisrawa perang melawan Raden Harya Sencaki. Namun mengetahui  Raden Harya Sencaki kalah, Sri Kresna kemudian mengutus Raden Janaka supaya menjambak rambut yang telah dipegang oleh Janaka yang sejajar dengan leher raden Buriswara. Raden Janaka yang masih sedih atas meninggalnya Abimanyu, kemudian mengeluarkan senjata Pasopati. Akan tetapi senjata tersebut meleset sehingga terkena bahu Raden Burisrawa sehingga Prabu Burisrawa terpental. Setelah Raden Burisrawa terkena senjata Pasopati, Raden Harya Sencaki kemudian mengeluarkan senjata yang mengenai leher dari Raden Burisrawa sehingga leher Raden Burisrawa tersebut putus. Sehingga Raden Burisrawa gugur meninggal di Palagan.

·         Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur)
Setelah Buriswara gugur, Kurawa menjadikan adipati Karna sebagai senapati. Hari berganti malam dan perang harus diakhiri. Akan tetapi, Kurawa memerintahkan para senapati memecah belah prajurit Pandawa. Mengetahui kejadian tersebut, Sri Kresna kemudian menyuruh Gatotkaca sang raja Pringgondani untuk melawan Karna.  Ketika masih berwujud jabang tetuka, Gatotkaca mempunyai ari-ari yang tidak bisa dipotong dengan senjata apapun.
Kuku Pancanaka Werkudara mental. Keris Pulanggeni Arjuna tidak mempan. Kemudian, Arjuna bersemedi dan meminta pertolongan kepada para Dewa. Bathara Guru kemudian mengutus Bathara Narada untuk memberikan keris Kunta Wijayandanu. Tetapi Adipati Karna yang berwujud seperti Raden Arjuna dapat merebut keris dari Bathara Narada. Ketika Bathara Narada mengetahui  jika sudah dibohongi oleh Karna, Bathara Narada mengutus Arjuna supaya dapat merebut senjata Kunta dari sang Adipati Karna. Dengan senjata warangka ari-ari Gatotkaca dapat terpotong tetapi waraka tersebut kemudian menyatu dibadan jabang tetuka.
Ketika perang besar, senjata Kunta adipati Karna sudah tentu mencari warangkanya. Walaupun Gatotkaca itu satria otot kawat balung wesi, akan tetapi takdir tidak dapat dirubah. Gatotkaca gugur terkena Kunta Wijayandanu di palagan.

·         Babak 7: Jambakan (Dursasana Gugur)
Pada kejadian di Jambakan tersebut Dursasana dikalahkan oleh Werkudara. Tubuhnya hancur lebur karena dadanya terkena kuku Pancanaka, setelah darahnya mengallir digunakan untuk keramas rambut Dewi Drupadi. Pada saat itu Dursasana ingin membuktikan kepada Dewi Banowati bahwa dia dapat mengalahkan Arjuna, dan Dursasana tidak takut darah. Setelah Dursasana menantang Werkudara yang masih bersedih lantaran putra yang dikasihinya gugur di Palagan yang melatar belakangi terjadinya perang antara Werkudara dengan Dursasana.

·         Babak 8: Karna Tandhing (Salya Gugur)
Adipati Karna yang merupakan Senapati Kurawa yang perang melawan Arjuna. Karna dipimpin oleh Prabu Salya, sedangkan Arjuna dipimpin oleh Sri Kresna. Pada perang tersebut Karna gugur karena terkena panah Pasopati Arjuna. Setelah kejadian itu Prabu Salya menghadapi Para Pandarwa. Ketika masih muda, Prabu Salya membunuh Begawan Bagaspati (mertua dari Prabu Salya). Begawan Bagaspati kemudian bersumpah akan membalas kematiannya pada perang Baratayudha melalui salah satu Pandawa ang mempunyai darah putih.

·         Babak 9: Rubuhan (Duryudana Gugur)
Prabu Durudana menginginkan perang gada dengan salah satu dari Pandawa. Dari Pandawa akhirnya Werkudara yang mau perang gada melawan Prabu Duryudana. Dengan menggunakan Aji Blabak Pangantol antol, Werkudara dapat menyerang Duryudana dengan gada yang beratnya sama dengan gunung Semeru yang mengenai paha kirinya. Prabu Duryudana kemudian terjatuh, dan digempur badannya dengan gada oleh Werkudara. Hal itu membuat badan dari Duryudana menjadi hancur lebur.


Rabu, 09 April 2014

Manusia dan Cinta Kasih

" Manusia dan Cinta Kasih "

              Berbicara tentang cinta dan Kasih, manusia tak akan pernah lepas dari yang namanya Cinta, baik Cinta terhadap Tuhan, sesama manusia, Hewan atau apapun yang ada disekitarnya. Cinta sendiri merupakan Anugrah Tuhan Yang Maha Esa kepada makhluknya.
Seperti halnya Cinta kepada Tuhan, kita selalu berusaha untuk mentaati perintah dan laranganNya, hal itu jugalah yang menjadikan manusia dijadikan sebagai makhluk yang paling sempurna dengan dibekali Akal dan Pikiran serta perasaan yang makhluk lain tidak memilikinya.

            Banyak hal yang membuktikan bahwa manusia memiliki Rasa Cinta yang besar (selain Cinta kepada Tuhan), diantaranya adalah Cinta kepada Orang Tua, Sahabat, kekasih,  Hewan Peliharaan, serta Alam (lingkungan). Tidak dipungkiri setiap Manusia pasti mencintai orang Tuanya, karena Cinta Kasih merekalah kita dirawat, dijaga hingga kita tumbuh dewasa. Tapi terkadang kita melupakan hal tersebut seiring bertumbuh dewasanya kita dengan bertambahnya akal kita, kita sering menentang keputusan Orang Tua terhadap kita yang mungkin mereka berfikir itulah yang terbaik untuk kita. Seperti dengan adanya kekasih, teman serta sahabat, coba kita fikir sejenak “apakah waktu kita banyak kita habiskan bersama Orang Tua ?“, tentunya tidak bukan, kita lebih sering berinteraksi diluar sana dengan kekasih atau  sahabat.

            Dari rasa Cinta sendiri dapat menumbuhkan beberapa sifat yang tanpa kita sadari hal itu pasti, diantaranya adalah sifat ingin selalu melindungi, “apa yang kalian rasakan ketika melihat orang yang kalian Cinta disakiti oleh orang lain ?”, tentunya kita tak akan rela bukan ?, nah.. dari hal itulah juga dapat kita artikan jika orang yang kita Cinta tersakiti, maka kita juga akan merasakan sakit pula. Rasa Cinta memiliki ikatan yang sangat kuat, ikatan yang tak terhalang ruang dan waktu. Cinta pun tak melulu tentang pacar, bisa kepada sahabat yang mungkin dengan kata lain kita sebut solidaritas, kepada Orang Tua yang sering kita artikan dengan kata lain yaitu Kasih Sayang, bahkan kepada hewan sekalipun manusia memiliki Cinta Kasih dengan menjadikannya peliharaan. Manusia tak akan pernah lepas dari Cinta dan Kasih, karena Cinta dan Kasih adalah hakikat manuisia yang melekat erat dari lahir ke dunia sampai meninggalkan dunia ini.
           

            

Minggu, 23 Maret 2014

Cerpen



"Mantan terindah"


           Hmmm...apakah ini wujud dari penyesalanku terdahulu,karena masa laluku yang kadang masih membayangiku, Oh iyaa..kenalkan dulu namaku Anton,  Kisah ini bermula ketika aku menginjakkan kaki di sekolah menengah akhir, seminggu setelah hari pertamaku masuk dikelas, serasa mataku ini tak ingin berpaling dari salah satu makhluk indah ciptaan tuhan. Setelah memberanikan diri untuk berkenalan denganya walaupun saat itu jatungku berdegup sangat kencang sekali, hahaha.. mungkin hal itulah yang membuatku cepat menaruh hati padanya. Dia Marsya gadis manis yang mampu membuat membuat jantungku tak karuan, karena sikapku yang tak percaya diri ini membuat aku tak mampu mengungkapkan perasaanku padanya. Hingga waktu tak kusadari telah berlalu begitu cepat, hingga tiba saat kenaikkan kelas tapi sayang kami tak sekelas, hal itu tidak menjadikanku patah semangat untuk tetap menginginkan dia menjadi kekasihku. Ya... aku mempunyai teman sekelas yang pada waktu itu cukup dekat dengan Marsya, sebut saja dia Novi.
Aku dan Novi sudah saling kenal sejak kami sekelas dengan Marsya dulu, akupun sering menghabiskan waktu dengan Novi karena secara kebetulan aku dan Novi sering satu kelompok ketika mendapat tugas dari guru. Aku banyak bercerita tentang perasaanku kepada Marsya, tapi ketika aku bercerita Novi selalu mentertawaiku karena aku yang kurang percaya diri, Novi terus memberi saran agar aku cepat-cepat mengutarakan isi hatiku pada Marsya, “cepat kau ungkapkan perasaanmu pada Marsya karna bukan hanya kau saja yang menginginkan Marsya, ton !”, ujar Novi menyemangatiku. Setelah berfikir semalaman hingga ucapan Novi siang tadi mampu membuat mataku susah terpejam, keesokan hari akupun mencoba mengajak bicara Marsya.
“heyy,. Marsya.!”, dengan sedikit gugup aku memanggilnya ketika keluar kelas, kebetulan kelas kami berdampingan.
“hey Anton ada apa ?”, sambil mengumbar senyumnya padaku yang membuat lidahku tiba-tiba kaku, “ka..ka..kamu ada waktu gag ?”,ucapku sambil mentap wajah bersih Marsya,
“kenapa ton, kebetulan hari ini aku gag ada les,” jawab Marsya ramah
“bisa temenin aku nyari buku gag, buat bahan ngerjain tugas minggu depan ?”.
“oke !”, jawab Marsya menyejukkan telingaku.

            Dari hal itulah aku mulai sedikit demi sedikit lebih dekat dengan Marsya, tak lama berselang kamipun berpacaran, dan hal yang tak pernah kuduga adalah Marsya memiliki perasaan yang sama terhadapku dari pertama kita kenal, hubungan kamipun mulus hingga kenaikkan kelas, kebetulan kami sekelas.
Banyak waktu kami jalani bersama hingga hubungan kamipun mengalami keretakan, rasa cemburu Marsya yang terlalu besarlah yang menjadi pemicunya, Marsya mengira aku menduakanya dengan Novi karena keakraban kami. Hingga aku harus memutuskanya karena sikap kekanak-kanakanya itu.
Tak terasa masa putih abu-abu telah diujung, Aku dan Marsya tetap menjalin hubungan sebagai teman biasa walau kadang hati ini ingin selalu bersamanya. Berselang beberapa bulan sejak kelulusan, Aku mendengar kabar Marsya telah memiliki kekasih baru, serasa hati tak rela tapi mungkin inilah jalan untukku.
Sampai sekarang kadang-kadang wajah Marsya hadir diingatanku walaupun hatiku telah dimiliki orang lain,ya aku mencoba melupakan Marsya mantan kekasihku waktu SMA dulu, setelah mendengar kabar Marsya telah mendapat penggantiku, akupun mencoba mengalihkan hatiku pada wanita lain, wanita sederhana yang kutemui secara tak sengaja. Setelah aku tahu ketulusan hatiku kekasihku sekarang aku tak akan mengulangi kesalahanku dulu dengan mengakhiri hubunganku
Aku yakin kekasihku sekarang lebih baik dari Marsya walau hati ini sulit melupakanya mantan terindahku.
Biarlah kusimpan dalam-dalam kenanganku tentangnya dalam hati.   

Selasa, 18 Maret 2014

Tradisi Perang Obor Jepara

Tradisi Tanpa Henti

Prosesi Perang Obor



A.       Sejarah Perang Obor

Perang Obor secara antropologis merupakan bagian dari sebuah masyarakat yang masih bersifat mistis. Upacara yang demikian itu di dalam etnologi disebut sebagai magi imitatis. Dari segi tertentu, perang obor juga bisa dilihat sebagai magi imitatis. Obor dapat menimbulkan sebuah senjata yang dapat mengusir musuh baik yang berupa manusia, binatang dan rh-roh jahat. Pada awalnya magi imitasi yang berupa perang obor ini dipercaya merupakan simbol untuk mengusir berbagai penyakit baik yang diderita oleh binatang peliharaan maupun masyarakat desa Tegalsambi.
Setelah datangnya pengaruh Islam, kemungkinan besar tradisi ini dibungkus dengan cerita-cerita yang berbau Islam. Dalam hal ini tradisi Perang Obor dikaitkan dengan upaya-upaya para tokoh Islam untuk untuk menyebarkan agama Islamdi kawasan ini. Dalam versi Islam, asal-usul tradisi Perang Obor ini dikaitkan dengan tokoh-tokoh walisanga yang memiliki kewibawaan kharismatik di kawasan ini.
Cerita asal-usul tradisi Perang Obor berasal dari zaman Kerajaan Demak. Pada masa itu, di desa Tegalsambi menetap seorang petani kaya yang bernama Kyai Babadan. Kekayaan yang diperoleh dari kerja keras sebagai seorang petani itu ditabung dengan cara dibelikan kerbau dan sapi untuk diternakkan. Sapi dan kerbau yang diternakkan tersebut sangatlah banyak sehingga Kyai Babadantidak mampu menggembalakannya sendiri. Ia berfikir harus mencari orang yang mau dipekerjakan sebagai penggembala. Kebetulan di desa itu ada seorang yang bernama Ki Gemblong yang dapat menggembalakan semua ternaknya. Oleh karena itu, kemudian Kyai Babadan memintaKi Gemblong menggembalakan ternaknya. Ki Gemblong menyanggupi pekerjaan yang diberikan oleh Kyai Babadan kepadanya yaitu menggembalakan ternak-ternak Kyai Babadan. Namun semua itu ternyata di luar dugaan Kyai Babadan, sebab Ki Gemblong tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan kesanggupannya. Sebaliknya Ki Gemblong bahkan menelantarkan kerbau dan sapi milik Kyai Babadan sehinggga semua ternak tersebut menjadi kurus dan penyakitan.
Pada waktu mengembala ternak-ternak tersebut, Ki Gemblong lebih senang dan asyik menangkap ikan dan udang di sawah-sawah dan di sungai daripada mengembala ternak milik Kyai Babadan. Dia tidak mempedulikan apakah sapi dan kerbau yang digembalakannya memperoleh makanan yang cukup atau tidak.Ki Gemblong juga tidak mau untuk membersihkan dan memandikan ternak-ternak yang digembalakannya tersebut. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika ternak milik Kyai Babadan yang digembalakannya menjadi kurus kering dan sakit-sakitan. Pada awalnya memang Ki Gemblong masih bisa menyembunyikan keadaan tersebut,namun demikian pada akhirnya Kyai Babadan pun mengetahui keadaan sapi dan kerbaunya. Kyai Babadan menjadi geram ketika melihat bahwa kondisi ternak miliknya yang kurus dan sakit-sakitan itu disebabkan oleh keteledoran yang disengaja oleh Ki Gemblong. Oleh karena kegeramannya yang memuncak maka Kyai Babadan menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Menerima perlakuan yang demikian ini, Ki Gemblong ternyata tidak tinggal diam. Ia juga segera mengambil pelepah daun kelapa untuk selanjutnya dinyalakan sebagai obor untuk menghadapi Kyai Babadan. Selanjutnya terjadilah pertarungan atau perang obor antara Kyai Babadan dan Ki Gemblong. Pertarungan tersebutsemakin lama tidak semakin mereda melainkan semakin bertambah seru, sehingga kobaran-kobaran api yang ditimbulkannya mengakibatkan terbakarnya kandang sapi dan kerbau. Akibatnya kerbau dan sapi yang berada di kandang berlarian ketakutan. Namun anehnya ternak yang semula berpenyakitan malah menjadi sembuh. Setelah mengetahui kenyataan seperti itu mereka berdua pun akhirnya melerai perkelahian mereka.
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Tegalsambi, sejak itu anak-cucu Kyai Babadan dan Ki Gemblongselalu melakukan upacara perang obor di Tegalsambi untuk mengenang kedua tokoh tersebut dan sekaligus upacara Perang Obor ini dimaksudkan untuk mengusir segala roh jahat yang mendatangkan penyakit. Upacara ini dilengkapi pula dengan pagelaran wayang kulit. Selain itu terdapat pula  prosesi untuk mengarak empat pusaka (dua pedang : Gendir Gampang Sari dan Podang Sari, sebuah arca, dan sebuah bedug Dobol) yang dipercayai sebagai warisan dari Sunan Kalijaga kepada KebayanTegalsambi. Kedua pedang kayu itu konon, merupakan serpihan kayu yang digunakan untuk membangun Masjid Demak.
B.       Perkembangan dan Perubahan
Sebagaiman yang telah dijelaskan di atas bahwa kemungkinan besar upacara Perang Obor atau obor-oboran ini sudah ada sebelum agama Hindu, Budha dan Islam datang.Perang obor tersebut merupakan bentuk upacara magi imitatis yang berfungsi untuk pengusiran roh jahat yang mendatangkan penyakit. Gerakan-gerakan tari yang menggambarkan perjuangan untuk mengalahkan musuh menimbulkan adanya perjuangan untuk mengusir kekuatan jahat yang membawa penyakit.
Perang Obor ini bukan hanya berupa gerakan perang obor saja, melainkan ada kirab membawa benda-benda pusaka, halini menunjukkan adanya perubahan-perubahan dalam pelaksanaan upacara perang obor itu sendiri. Perubahan dalam pelaksanaan tersebut terjadi sejalan dengan datangnya pengaruh-pengaruh baru dalam masyarakat desa Tegalsambi. Adanya kenyataan bahwa salah satu benda yang dipandang sebagai pusaka berupa arca dalam kirab itu menandakan masuknya pengaruh Hindu dalam upacara itu. Seperti diketahui bahwa patung sebagai personifikasi Tuhanbelum dikenal dalam kepercayaan animisme dan tidak diperbolehkan dalam agama Islam.
Namun demikian ketika agama Islam datang, maka upacara perang obor ini pun juga mendapatkan sedikit warna Islam. Hal itu bisa dilihat dari salah satu benda yang diarak adalah sebuah bedug yang merupakan warisan dari Sunan Kalijaga (salah satu wali sanga) dan dua buah pedang kayu yang bahannya dipercaya berasal dari bahan yang sama yang digunakan untuk membuat soko guruMasjid Demak.
Dilihat dari fungsinya, tradisi perang obor ini juga mengalami perubahan-perubahan. Jika pada zaman pra Islam tradisi ini difungsikan sebagai pengusir kekuatan roh jahat yang mendatangkan wabah penyakit. Pada masa Islam upacara ini digunakan sebagai ajang untuk syiar Islam yang bisa dilihat dari beberapa simbul yang digunakannya. Upacara tersebut waktu pelaksanaannya diadakan pada masa-masa puncak panen. Semua itu dilakukan sekaligus sebagai luapan rasa syukur dikalangan masyarakat setelah mereka bisa menikmati hasil panen.
Perkembangan dan perubahan tradisi perang obor ini juga dipengaruhi oleh perubahan ekologi dan ekonomi. Pada zaman dahulu, untuk mengumpulkan pelepah daun kelapa dan daun pisang kering bukanlah pekerjaan yang sulit. Pada saat ini ketika jumlah pohon kelapa sudah mulai berkurang seringkali para peserta harus membeli daun kelapa daun tersebut dengan cara memesan terlebih dahulu untuk kepentingan upacara. Kesulitan ini juga berhubungan dengan jumlah penggembala yang tidak lagi sebanyak zaman dulu. Pada masa duhulu jika menjelang upacara perang obor, para perangkat desa tinggal memberi tugas kepada penggembala dan orang yang memiliki sapi untuk menyiapkan daun kelapa kering dan bahkan memerintahkan mereka untuk menjadi pemain utama dalam upacara tersebut. Semua ini juga berkaitan dengan kenyataan bahwa legenda perang obor ini berasal dari dunia penggembalaan. Pada saat ini sudah semakin sedikit orang yang berprofesi sebagai buruh penggembala maka para pemain perang obor biasanya para pemuda desa yang mempunyai nyali untuk melakukan upacara ini dan biasanya mendapatkan upah dari pemerintahan desa.
C.       Tujuan Penyelenggaraan

Jika diamati secara seksama, pada saat ini upacara tradisi perang obor merupakan upacara selamatan yang dilakukan oleh warga Tegalsambi untuk melakukan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil panen kepada segenap masyarakat desa Tegalsambi. Upacara selamatan atas keberhasilan panen dari warga desa ini sangat berbeda dengan daerah lain. Upacara dilakukan pada malam hari dengan acara puncak Perang Obor. Para peserta perang obor dengan menggunakan obor masing-masing saling menyerang maka seluruh peserta dapat menyelesaikan perang obor tersebut dengan selamat. Selain perang obor sebetulnya ada juga perang ketupat, ada juga yang wajib memandang matahari. Semua untuk bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi berkah. Dengan demikian pada saat ini tradisi perang obor merupakan upacara dalam rangka sedekah bumi desa Tegalsambi yang bertujuan untuk bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.

D.       Manfaat

Menurut penuturan dari para sesepuh desa Tegalsambi, bahwa manfaat upacara manganan ini pada awalnya adalah untuk mengusir kekuatan jahat pembawa wabah penyakit. Namun demikian dengan datangnya prngaruh Islam, upacara ini difungsikan sebagai memanifestasikan rasa syukur kepada Tuhan dan dalam rangka untuk membangun kebersamaan dan kegotong-royongan diantara warga desa Tegalsambi.

E.       Peralatan dan Simbul-simbul Upacara

Peralatanutamapeserta dengan dibekali kepercayaan dari sesepuh desa yang dibutuhkan dalam upacara perang obor ini adalah pelepah daun kelapa kering (blarak). Selain itu juga dibutuhkan daun pisang kering sebagai campuran bahan pembakar daun kelapa tersebut. Campuran pelepah daun kelapa kering dengan daun pisang ini kemudian ditata dengan bentuk tertentu sehingga bisa digunakan untuk memukul ataupun menusuk lawan. Pakaian yang digunakan sudah menggunakan seragam khusus untuk acara ini. Pada saat ini para pemain cenderung menggunakan pakaian yang bisa melindungi badan mereka dari pukulan obor yang bisa membuat kulit menjadi melepuh. Namun demikian pada zaman dahulu para pemain justru menggunakan pakaian yang sudah jelek dengan pertimbangan jika terbakar mereka tidak merasa sangat kehilangan. Jadi peralatan obor yang terbuat dari daun kelapa dan daun pisang kering merupakan peralatan yang memang sesuai dengan apa yang diceritakan dalam legenda Kyai Babadan dan Ki Gemblong. Sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa obor dapat merepresentasikan sebuah simbul yang merupakan alat untuk mengusir kekuatan jahat yang mendatangkan penyakit dan berbagai malapetaka yang lain. Peralatan yang digunakan adalah beberapa benda yang dipandang keramat oleh masyarakat desa Tegalsambi yang diarak pada waktu prosesi perang obor akan berlangsung yaitu sebuah arca, dua pedang kayu, dan bedug. Ada kemungkinan bahwa arca itu merupakan perwujudan dari arwah nenek moyang yang bisa melindungi desa (dhanyang). Namun demikian anggapan seperti itu pada saat ini sudah hilang seiring dengan pemahaman masyarakat yang semakin mendalam tentang agama Islam. Sementara itu dua buah pedang kayu dan sebuah bedug yang diyakini oleh masyarakat sebagai peninggalan Sunan Kalijaga jelas merepresentasikan simbul-simbul kekuatan dalam syiar Islam. Dari hal tersebut dapat dijelaskan bahwa Islam bukanlah agama yang lemah tetapi agama yang kuat (disimbolkan pedang), namun masih tetap mengedepankan ajakan-ajakan yang persuasif (disimbolkan dalam bedhug).
Menurut berbagai sumber informasi tidak banyak orang yang dapat melihat pusaka-pusak tersebut karena ditempatkan disebuah ruangan khusus yang primpen dirumah kepala desa. Terdapat cerita bahwa dahulu pernah ada kamerawan TV swasta yang mengambil gambar pusaka itu tetapi gambar tersebut tidak dapat muncul dikamera. Layaknya seorang bayi, pusaka dari kayu sepanjang 40 cm itu diblebet kain putih berposisi menggantung di dipan kecil. Ujung atas pusaka tersebut diberi alas bantal kecil, juga terdapat bantal guling di sisi kanan dan kirinya. Menurut kepercayaan, siapapun petingginya, harus rela rumahnya menjadi  tempat pusaka itu. Para kepala desa biasanya meyakini bahwa pusaka-pusaka itu ditunggui oleh khodam atau semacam makhluk halus. Mereka yakin bahwa sedikit saja terjdi penyimpanga-penyimpangan dalam tugas sebagi kepala desa maka akan berakibat fatal. Dengan demikian pusaka-pusaka itu menjadi pengeling atau sebagai pembei peringatan jika akan berbuat penyimpangan.
Ada juga cerita yang mengatakan bahwa pedang kayu berasal dari kayu reng masjid Demak yang diambil Ki Dawuk, leluhur Tegalsambi, sebagai senjata dalam peperangan antara kerajaan Demak pada masa Raden Fatah dan Kerajaan Blambangan. Nama Dawukyang dalam bahasa Jawa berarti abu-abu yang merupakan warna kuda tunggangan Ki Dawuk. Namun, saat ini makam Ki Dawuk diTegalsambisudah musnah (moksa).

F.        Prosesi Upacara

Perang obor dilakukan oleh sekitar 50 orang warga desa. Jika kulit melepuh atau lebam kena gebuk akibat perang itu,luka tersebut bisa dipulihkan dalam sekejap dengan olesan londoh. Oleh masyarakat setempat hal ini dipandang sebagai keajaiban dari Tuhan. Hal semacam ini bukan hanya diyakini olehmasyarakat awam juga dari pimpinan didesa itu. Namun demikian para perangkat desa tidak mau menjelaskan air londoh itu berasal dari mana dan apa formulannya.
Tradisi perang obor merupakan ungkapan rasa terimakasih manusia kepada Tuhan yang telah memberi rejeki kepada masyarakat desa Tegalsambi melalui panen yang melimpah. Biasanya upacara ini dilakukan setiap setahun sekali dengan memilih waktu yang tepat dan pada malam senin pahing. Apa yang sangat menarik adalah bahwa jika ada perang obor,warga Tegalsambi dirantau pun rela meninggalkan pekerjaannya untuk pulang kampung. Mereka yakin bahwa apa yang dilakukannya akan membuat desanya selamat dari marabahaya dan sekaligus sebagai ungkapan  rasa syukur kepada Tuhan.
Sebelum acara perang obor dimulai, terlebih dulu diadakan selamatan ditujuh tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Tegalsambi. Setelah itu dilakukan penyembelihan seekor kerbau jantan muda yang belum pernah dipakai untuk membajak. Penyembelihan ini dilakukan dirumah kepala desa. Pada pukul 17.30 (menjelang malam senin pahing)salah satu perangkat desa (biasanya bayan/seksi keamanan) menaruh sesaji (berupa kendil berisi darah kerbau,sebagian jeroan,dan daging yang sudah dimasak). Sesaji ini diperuntukan bagi para dhanyang yang dipercayai ikut menentukan keselamatan desa Tegalsambi.
Menjelang pukul 20.00,sepanjang jalan menuju kerumahnya dipadati ribuan pengunjung baik dari desa setempat maupun desa-desa lain. Sebelum api obor disulut pada pukul 20.00,petinggi desa diarak oleh pasukan obor mulai dari rumahnya hingga kepusat upacara diperempatan jalan tengah desa.petinngi menggenakan pakaian adat jawa,diapit dua pawang api dan sesepuh desa.
Tepat pukul 20.00, upacara perang obor dimulai. Para peserta yang punggut biaya sebesar Rp 2.500,- perorang memakai seragam khusus, bersepatu dan bertutup kepala. Doa-doa memohon restu kepada dhanyang(pengusaha bumi Tegalsambi) pun dilakukan. Kemenyan dibakar, kemudian diiringi gending Kebo giro 50 orang dari empat jurusan dijalanan desa Tegalsambi menghambur keperempatan jalan.
Diiringi sorak-sorai dan jerit ketakutan para penonton, mereka main gebuk dengan obor. Tak peduli yang digebuk kakak, adik, orang tua atau mungkin kakeknya. Percik-percik bunga api menjadi pemandanagn tersendiri dipesisir teluk awur itu. Hal ini dimulai ketika salah satu dari’pemain’ perang obor ini berteriak : “Seraaang...!” Para anggota pasukan yang menggunakan sepatu dengan celana dan baju pembungkus rapat, kepala mereka tertutup topi, caping atau helm pelindung dan hanya dua mata yang terlihat membelalak branggas itu segera siap sedia. Mendengar teriakan itu, anggota pasukan lari dari empat arah berlawanan diperempatan jalan. Mereka bertemu ditengah dan berlangsung saling hajar. Api yang bekobar dujung obor mereka arahkan kekepala “lawan” –nya. Upacara berlangsung bukan hanya diperempatan desa tetapi juga disepanjang jalan disekitar perempatan.
Di tengah–tengah atraksi yang penuh kekerasan itu anak-anak dgendongan ibunya disekitar kejadian ada yang menangis pilu melihat pijar api dan mendengar teriakan-teriakan “perang” . kontras dengan sebagian anak yang menangis, sebagian besar ribuan mata yang menyaksikan justru sorak-sorai dan bertepuk tangan riuh. Mereka bahkan ‘memprovokasi’ sekelompok anggota pasukan untuk memadamkan bara api lawannya. Meski demikian, senyum hangat dan keakraban tampak ditengah ‘provokasi’. 
Sesuai upacara perang obor bnyak anggota pasukan obor yang ditangannya terluka lecet. Sekitar satu jam ‘peperanagan’ usai para anggota pasukan langsung menuju rumah kepala desa untuk menerima uang lelah sekadarnya sekaligus mengobati luka dengan air kembang dari pusaka desa bernama Ki Songgo Buwono yang diruwat dirumah kepala desa. Dengan demikian, upacara perang obor tak bisa lepas dari keberadaan pusaka tesebut.


LAMPIRAN

Do'a bersama sebelum acara dimulai









Gulungan zobor yang akan digunakan dalam upacara
Prosesi perang obor

Kemeriahan perang obor
 
Para pemain sedang menyembuhkan luka bakar dengan londoh