Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Selamat Datang di Blog Sederhana

Saran dan Kritik silahkan masukkan komentar atau email ke Hanifpprince@gmail.com

Sabtu, 16 Mei 2015

Kepemimpinan

Kepemimpinan

A.      Teori dan Arti Penting Kepemimpinan
Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang kepemimpinan, alangkah baiknya jika kita lebih tahu dahulu mengenai apa itu kepemimpinan. Berikut ini beberapa pendapat mengenai pengertian dari kepemimpinan.
Ø  George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)
Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Ø  Ordway Tead (1929)
Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
Ø  Rauch & Behling (1984)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan
Ø  Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977)
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan apa yang kamu inginkan dari mereka untuk mengerjakannya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas tentang kepemimpinan, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. sumber dari pengaruh tersebut dapat berupa formal, misalnya kepemilikan peringkat manajerial dalam suatu organisasi. Karena posisi manajemen muncul bersama  suatu tingkat wewenang yang dirancang secara formal,seseorang dapat menjalankan suatu peran kepemimpinan semata-mata karena kedudukannya dalam organisasi tersebut.

1.        Teori Kepemimpinan
di dalam teori kepemimpinan akan dijelaskan tentang pendekatan teori karakter, teori tingkah laku, dan teori kemungkinan. Mengenalkan perkembangan dalam kepemimpinan yang mengkaji tentang sejumlah isu kontemporer yang berkaitan dengan penerapan konsep kepemimpinan. Teori yang berkaitan tentang kepemimpinan adalah sebagai berikut.
a.        Teori Karakter
Teori karakter kepemimpinan adalah teori-teori yang mencari karakter kepribadian, sosial, fisik, atau intelektual yang memperbedakan pemimpin-dari-bukan-pemimpin.pendekatan ini mengabaikan kebutuhan dari pengikut, umumnya pendekatan itu tidak memisahkan

b.        Teori Tingkah Laku
Teori tingkah laku atau dapat disebut juga dengan teori perilaku kepemimpinan. Teori perilaku kepemimpinan adalah teori-teori yang mengemukakan bahwa perilaku spesifik membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.
Perbedaan antara teori karakter dengan teori perilaku di dalam penerapannya terletak pada asumsi yang mendasarai. Seandainya teori karakter tersebut valid, maka kepemimpinan secara dasar dibawa dari lahir. Di pihak lain seandainya ada perilaku spesifik yang menunjukkan pemimpin, maka kita dapat mengajarkan kepemimpinan, kita dapat merancang program-program yang menanamkan pola perilaku ini ke dalam diri individuyang berhasrat untuk menjadi pemimpin yang efektif.

c.         Teori Kemungkinan
Teori model kemungkinan Fiedler mengemukakan bahawa kinerja kelompok yang efektifbergantung pada padanan yang tepat antara gaya interaksi dari si pemimpindengan bawahannyan serta sampai tingkat mana situasi memberikn kendali dan pengaruhkepada si pemimpin.

2.        Arti Kepemimpinan
Pemimpin adalah seorang yang dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan usaha bersama guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka kepemimpinan berkaitan dengan:
  • Keterlibatan orang lain atau sekelompok orang dalam kegaitan mencapai tujuan.
  • Terdapat faktor tertentu yang ada pada pemimpin sehingga orang lain bersedia digerakkan atau dipengaruhi untuk mencapai tujuan.
  • Adanya usaha bersama serta pengerahan berbagai sumber daya, baik tenaga, dana, waktu dan lain sebagainya.
  • Melihat pada hal – hal diatas, maka dapat dikatakan hakekat kepemimpinan adalah sebagai berikut:
  • Kepemimpinan adalah kepribadian seseorang yang menyebabkan sekelompok orang lain mencontoh atau mengikutinya. Kepemimpinan adalah kepribadian yang memancarkan pengaruh, wibawa sedemikian rupa sehingga sekelompok orang mau melakukan apa yang dikehendakinya.
  • Kepemimpinan adalah seni, kesanggupan atau teknik untuk membuat sekelompok orang mengikuti atau mentaati apa yang dikehendaki, membuat mereka antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, dan bahkan sanggup berkorban.
  • Kepemimpinan merupakan penyebab kegiatan, proses atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap sekelompok orang, baik dalam organisasi formal maupun informal.
  • Kepemimpinan adalah memprodusir dan memancarkan pengaruh terhadap sekelompok orang sehingga bersedia untuk mengubah pikiran, pandangan, sikap, kepercayaan dan sebagainya. Kepemimpinan di dalam organisasi formal merupakan suatu proses yang terus menerus, yang membuat semua anggota organisasi giat dan berusaha memahami dan mencapai tujuan – tujuan yang dikehendaki oleh pemimpin.
  • Kepemimpinan adalah suatu bentu persuasi, suatu seni membina sekelompok orang melalui ”human relation” dan motivasi yang tepat, sehingga tanpa rasa takut mereka mau bekerja sama, memahami dan mencapai tujuan organisasi.
  • Kepemimpinan adalah suatu sarana, alat atau instrument untuk membuat sekelompok orang mau bekerja sama, berdaya upaya, mentaai segala sesuatu untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
Tugas pokok kepemimpinan yang berupa mengantarkan, mempelopori, memberi petunjuk, mendidik, membimbing dan lain sebagainya agar para bawahan mengikuti jejak pemimpin mencapai tujuan organisasi hanya dapat dilaksanakan secara baik, bila seorang pemimpin menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikatakan bahwa arti penting dari kepemimpinan adalah bagaimana kita sebagai seorang pemimpin dapat mendidik, membimbing, menjalin hubungan bersama, dan mengantarkan anggota kepada tujuan bersama.
 Untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat disegani maka perlu mengetahui bagaimana dan apa saja gaya yang harus dilakukan sebagai seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau dipacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini
1.        Teori Genetis (Keturunan)
Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan bakat bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

2.        Teori Sosial
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3.        Teori Ekologis.
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.
Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s), yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).
Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.
Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.

B.       Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1.        Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2.        Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut: Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3.        Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

4.        Tipe Karismatik
Tipe (teori) kepemimpinan karismatik mengemukakan bahwa para pengikut memuat atribusi dari kemampuan kepemimpinan yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

5.        Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

C.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan
Dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dari kepemimpinan. Mangunhardjana mendeskripsikan faktor-faktor kepemimpinan dalam bukunya yang berjudul kepemimpinan teori dan pengembangannya, yaitu sebagai berikut.

1.        Faktor yang berasal dari diri sendiri
Faktor-faktor yang berasal dari kita sendiri, yang mempengaruhi kepemimpinan adalah pengertian tentang kepemimpinan, nilai atau hal yang kita kejar dalam kepemimpinan, cara kita berhasil menduduki pangkat kepemimpinan. Pengertian seseorang tentang kepemimpinan mempengaruhi kepemimpinannya. Orang yang memandang kepemimpinan sebagai status dan hak untuk mendapatkan fasilitas, uang, barang, keenakan hidup jelas akan menunjukkan praktek kepemimpinan yang tidak sama dengan orang yang mengartikan kepemimpinan sebagai pelayanan bagi kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya dan memandang fasilitas kepemimpinan sebagai hal supaya dapat melayani lebih baik.
Cara orang berhasil menduduki pangkat kepemimpinn mempengaruhi dari cara kepemimpinannya. Orang menjadi pemimpin hanya karena diangkat dan bukan karena kecakapan yang dimiliki akan menunjukkan perilaku kepemimpinan yang berbeda dari orang yang menjadi pemimpin karena kecakapan yang sudah terbukti. Pengalaman orang dalam kepemimpinan juga mempengaruhi kepemimpinan seseorang. Seorang pemmpin yang sudah terbiasa bergaya kepemimpinan kerja tinggi kekompakan rendah, misalnya cenderung akan mempergunakan gaya kepemimpinan itu tanpa memperhitungkan orang-orang yang dipimpin atau situasi kepemimpinan yang ada.   
 
2.        Pandangan kita terhadap manusia
Pandangan pemimpin tentang manusia mempengaruhi pandangan tentang manusia-manusia yang kita pimpin. Seperti halnya teori Douglas McGregor yang mengemukakan 2 pandangan tentang manusia. 1) Teori X, yaitu pada dasarnya manusia pada umumnya tidak menyukai pekerjaan dan sedapat mungkin menghindari pekerjaan. Karena manusia pada dasarnya tidak suka bekerja, manusia perlu dipaksa, diarahkan dan diancam dengan hukuman, supaya mau bekerja dan mencurahkan tenaga secukupnya untuk mencapai sesuatu. 2) Teori Y, yaitu bagi manusia bekerja merupakan hal alamiah seperti halnya bermain-main dan beristirahat. Pengawasan dari luar dan ancaman hukuman bukan merupakan satu-satunya cara untuk mendorong orang supaya berusaha untuk menghasilkan sesuatu.

3.        Keadaan kelompok
Keadaan kelompok orang yang kita pimpin juga mempengaruhi kepemimpinan kita. kelompok yang matang cenderung membuat kita rela menyerahkan kepercayaan dan kekuasaan kepada para anggota. Kelompok yang belum matang membuat kita cenderung bertindak otoriter dengan banyak menyuruh dan terlalu direktif.

4.        Situasi waktu kepemimpinan kita dilaksanakan
Situasi kepemimpinan amat ditentukan oleh penyelesaian tugas bersama dan kekompakan kelompok. Situasi, yang menuntut supaya tugas segera diselesaikan, cenderung membuat pemimpin lebih menekankan orientasi pada pekerjaan dan kurang pada orang-orang yang dipimpinnya. Situasi kelompok yang tidak kompak membuat kita cenderung untuk lebih memperhatikan hubungan antar mereka dan kurang untuk menghimpun usaha untuk menyelesaikan tugas bersama.

D.      Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi
Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain yaitu para karyawan atau bawahan, para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Kekuasaan tersebut dapat bersumber dari hadiah, hukuman, otoritas dan kharisma. Pemimpin harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri, sikap bertanggung jawab yang tulus, pengetahuan, keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan, kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain dalam membangun organisasi.
Kepemimpinan memainkan suatu bagian yang sentral dalam memahami perilaku kelompok, karena pemimpinlah yang biasanya memberikan pengarahan menuju pencapaian tujuan. pemimpin tim yang efektif ternyata menjalankan empat peran: mereka bertindak sebagai penghubung dengan konstituen eksternal, mereka adalah pemecah masalah, mereka mengelola konflikdan mereka melatih anggota tim.



Referensi:
Mangunhardjana. 1993. Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kanisius.

Robbins, P. Stephen. 2001. Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta: Prenhallindo.

Pengambilan keputusan dalam Organisasi



Pengambilan keputusan dalam Organisasi

A.      Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan.
1.        Definisi Keputusan
Keputusan adalah suatu pengakhiran atau pemutusan daripada suatu proses pemikiran untuk menjawab suatu pertanyaan, khususnya suatu masalah atau problema. Menurut Atmosudirdjo dalam bukunya beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan Setiap keputusan selalu mempunyai isi dan tujuan. Isi adalah apa yang dikehendaki oleh yang mengambil keputusan dan harus dirumus sejelas-jelasnya, dan pada umumnya akan merupakan aktivitas-aktivitas, sikap, pendirian, pandangan, pendapat, tindakan, fungsi, tanggungjawab, biaya, warna, sifat, dsb. Yang dikehendaki oleh pengambil keputusan. Sedangkan tujuan adalah apa yang akhirnya harus dicapai.
Di samping itu, setiap keputusan juga harus mempunyai maksud, dasar, landasan serta bentuk. Maksud dalam pengambilan keputusan terdiri dari untuk apa atau mengapa keputusan tersebut diambil. Sedangkan landasan terdiri dari prinsip, postulat, asumsi, dan sokoguru. Sedangkan bentuk dari keputusan adalah surat, besluit, piagam, akte notaris, peraturan, undang-undang, instruksi, surat edaran, surat perintah dan dokumen.

2.        Dasar Pengambilan Keputusan
Dasar dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengambilan keputusan yang baik dan benar. Kadang-kadang kita tertipu dalam berpikir sampai-sampai kita berpendapat bahwa selalu tersedia pemecahan yang universal dan paling baik untuk setiap masalah. Cara berfikir dan membuat keputusan tersebut baik untuk keputusan yang tidak melibatkan orang lain. a) Unsur pertama yang ada dalam keputusan yang diambil dengan melibatkan orang adalah mutunya. Artinya apakah keputusan tersebut secara objektif merupakan keputusan yang baik atau buruk dalam rangka mencapai tujuan. b) Unsur kedua adalah penerimaan keputusan tersebut oleh orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya.
Penerimaan tersebut menyangkut tingkat ketersediaan orang-orang yang terlibat untuk melaksanakan keputusan tersebut. Mutu menutut kebijaksanaan, buah dari ketajaman berfikir dan ilmu pengetahuan yang dikuasai. Penerimaan menuntut kepuasan, buah keterlibatan dalam pembuatan keputusan. Untuk menjaga kekompakan suatu kelompok dan tercapainya tujuan bersama suatu kelompok harus membuat keputusan mengenai berbagai hal. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a.        Cara Mengambil Keputusan
Cara dalam mengambil suatu keputusan dibagi atas 6 cara. Adapun keenam cara dalam pengambilan keputusan adalah:
1)        Cara Pertama
Setiap anggota kelompok berhak membuat atau berpendapat untuk membuat keputusan. Apabila keputusan itu dianggap baik dan diterima oleh kelompok, orang tersebut merasa berguna atau dipakai dan bermanfaat bagi kelompok. Sehingga orang tersebut semakin senang di dalam kelompok tersebut. Namun jika anggota kelompok mencoba membuat keputusan akan tetapi tidak mendapatkan dukungan dari anggota kelompok yang lain, maka anggota kelompok yang membuat keputusan merasa dijatuhkan (keputusan yang diambil ditolak). Apalagi jika pada saat membuat keputusan tersebut tidak mendapatkan pertanyaan penjelasan pertukaran pendapat maupun pertimbangan. Hal tersebut dapat menyebabkan anggota kelompok tersebut semakin lama semakin tidak mau menyumbang pikiran, karena merasa bahwa sumbangan pikirannya tidak dihargai dan bakatnya tidak diperhatikan.
2)        Cara Kedua
Satu orang yang merasa mempunyai hak authorization, membuat keputusan bagi kelompok . Kadang-kadang terjadi bahwa dalam suatu kelompok ada seorang anggota yang merasa mendapat hak authorization, untuk membuat keputusan bagi kelompokya. Orang itu mengambil hak seperti bagi diri sendiri, dapat karena dia tidak menghargai pandangan dan gagasan  para anggota lain atau karena dia merasa atau memang merupakan satu-satunya orang  yang mempunyai informasi paling baik untuk membuat keputusan. Cara membuat keputusan seperti ini merupakan perangkap bagi pemimpin, yang tidak membagikan informasi kepada kelompok atau yang berpikiran bahwa kedudukannya dalam kelompok memberinya hak istimewa untuk membuat keputusan bagi kelompok dalam segala hal dan pada segala kesempatan.
3)        Cara Ketiga
Dalam membuat keputusan dengan berpegangan tangan, handclasping. Dalam suatu kelompok ada seorang anggota kelompok yang mengusulkan suatu usul yang jitu. Kemudian satu, dua atau beberapa anggota kelompok mendukungnya. Dukungan beberapa anggota itu menciptakan kesan seolah-olah semua anggota mendukungan. Dengan alasan yang berbeda-beda, anggota lain tidak ikut berbicara dan menyatakan pendapat, juga jika mereka tidak menyetujui atau menyukai usul tersebut. Akibatnya ada kelompok yang merasa terpaksa harus menerima keputusan yang tidak mereka setujui atau merasa kecewa dan tidak dibutuhkan yang dapat membuat kelompok dapat macet dan acuh tak acuh.
4)        Cara Keempat
Sekelompok kecil minority, memutuskan bagi kelompok. Ketegangan dan tekanan menjadi terbuka apabila sekelompok kecil mencoba untuk memutuskan bagi seluruh kelompok. Kelompok kecil secara umum dan perorangan menerima keputusan. Kelompok tersebut juga dengan suka rela memberikan sumber-sumber yang diperlukan dan menyumbangkan bakat-bakat mereka. Sebagian dari kelompok besar di depan umum dapat saja menerima keputusan tersebut. Akan tetapi secara pribadi mereka menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui keputusan tersebut. Mereka tidak merasa tidak merasa ikut bertanggungjawab atas keputusan tersebut dan ikut terlibat dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan keputusan menjadi amat sulit, jika untuk mewujudkan keputusan itu dibutuhkan pendukung lebih banyak daripada jumlah kecil, karena sebagian besar kelompok tidak berminat di dalam keputusan tersebut.
5)        Cara Kelima
Pengembilan keputusan melalui pemilihan voting. Melalui pemilihan memberi kemungkinan bahwa sebagian besar anggota yang mayoritas menang. Ini berarti bahwa ada anggota yang kalah. Harus diakui bahwa pemilihan merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keputusan apabila persetujuan bersama.
6)        Cara Keenam
Keputusan terjadi berdasarkan persetujuan bersama, consensus. Persetujuan bersama biasanya merupakan cara yang paling sehat bagi kelompok untuk membuat keputusan. Keputusan bersama paling baik, jika dibuat dalam kelompok dengan jumlah anggota yang semuanya dapat didengar pendapatnya.

3.        Proses Untuk Membuat Keputusan
Awal acara pembuatan keputusan, pemimpin perlu menyampaikan informasi sebanyak dan selengkap mungkin sehubungan dengan perkara yang hendak diputuskan. Dalam proses pembuatan keputusan anggota kelompok dan pemimpin perlu peka terhadap menjaga kekompakan kelompok. Untuk membuat keputusan sendiri berguna kalau kita mengusulkan cara membuat keputusan yang hendak dipergunakan. Adapun cara pembuatan keputusan adalah sebagai berikut.
a.        Langkah I
Langkah yang pertama adalah merumuskan sasaran, yaitu apa yang sesungguhnya mau dicapai oleh kelompok?
b.        Langkah II
Langkah yang ke-dua adalah merumuskan halangan dan hambatan untuk mencapai sasaran yang sudah dirumuskan. Satu masalah dapat mengandung banyak masalah dan halangan. Masalah-masalah tersebut dicatat supaya seluruh anggota melihat dan tahu.
Untuk langkah I & II perlu disediakan banyak waktu, supaya para anggota mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menyumbangkan gagasan, sebelum dicapai rumusan definitif.
c.         Langkah III
Langkah yang ke-tiga adalah memilih masalah yang bila dipecahkan memungkinkan kelompok bergerak menuju ke tujuan. Langkah ke-tiga membutuhkan banyak waktu, karena kelompok perlu mencapai persetujuan bersama. Langkah III juga merupakan langkah yang rumit. Hal ini dikarenakan kelompok harus membuat keputusan tentang perkara tertentu dan harus konkret.
d.        Langkah IV
Langkah yang ke-empat adalah melahirkan dan mengumpulkan berbagai keputusan yang mungkin. Untuk melahirkan berbagai keputusan yang tersebut, kepada para anggota diajukan pertanyaan yaitu “Keputusan apa saja yang mungkin untuk mengatasi perkara yang sudah dirumuskan tersebut”.
e.         Langkah V
Langkah yang ke-lima adalah menilai segala keputusan yang mungkin dihasilkan oleh kelompok melalui teknik pengumpulan gagasan. Kriteria utama untuk menilai usul-usul tersebut berasal dari rumusan masalah yang disetujui pada langkah III. “Apakah keputusan tersebut dapat memecahkan masalah tersebut?”
f.         Langkah VI
Langkah terakhir adalah memilih satu keputusan dan perencanaan untuk melaksanakannya. Seperti langkah III, langkah VI juga menuntut persetujuan, konsensus, jika semua kekuatan kelompok akan dikerahkan untuk pelaksanaannya.

B.       Jenis-jenis Keputusan Organisasi
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Bagian mana organisasi harus dilibatkan dalam mengambil keputusan, dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan. Secara garis besar keputusan digolongkang ke dalam keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang, dan biasanya telah dikembangkan cara tertentu untuk mengendalikannya. Keputusan tidak rutin adalh keputusan yang diambil pada soal-soal khusus dan tidak bersifat rutin.
Di dalam pengambilan keputusan, baik yang bersifat rutin maupun tidak, ada 2 metode yang digunakan. 1) Metode yang pertama adalah metode tradisional, dimana pengambilan keputusan lebih berdasarkan intuisi dan kebiasaan. 2) Metode yang kedua adalah metode modern, metode modern di dalam pengambilan keputusan lebih didasarkan pada perhitungan matematis dan penggunaan instrumen yang bersifat modern, seperti komputer dan perhitungan statistik.

C.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Masalah pengambilan keputusan merupakan masalah pokok bagi kehidupan manusia, dan tidak kurang pentingnya bagi kehidupan suatu organisasi. Studi dan latihan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan serta kelihaian dalam pengambilan keputusan.kemampuan tersebut sangat tergantung dari kondisi badan dan mental dari seseorang. Keputusan dapat diambil karena adanya faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dipertimbangkan atas dasar unsur-unsur atau faktor-faktor di bawah ini.
1.        Faktor Pertama
Faktor pertama yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan adalah faktor kewenangan atau authority.
2.        Faktor Ke-dua
Faktor kedua yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan adalah kesetiaan dan integritas. Kesetiaan dan integritas adalah hal yang sangat diperlukan untuk mensukseskan pelaksanaan dari suatu keputusan.
3.        Faktor Ke-tiga
Faktor ke-tiga yang harus diperhatikan adalah Leadership atau kepemimpinan. Leadership adalah kemampuan dan aktifitas-aktifitas tertentu untuk membuat para bawahan dipengaruhi dalam arti positif, sehingga mereka secara wajar dan sehat mau menjalankan apa yang diminta atau segala yang diharapkan. Kesetiaan dan integritas, termasuk disiplin dan semangat kerja, sebenarnya akan sangat tergantung dari efektifitas dari kepemimpinan.
4.        Faktor Ke-empat
Faktor ke-empat yang harus diperhatikan adalah Tanggung jawab. Dalam arti sempit, tanggung jawab berarti laporan kepada atasan atas penggunaan dari kekuasaan (kewenangan) yang telah diperoleh beserta hasil pelaksanaan atau penuaian tugas yang menjadi konsekwensinya. Dalam arti luas, tanggung jawab dibagi atas:
a.       Tanggung jawab yang diberikan kepada atasan
b.      Tanggung jawab kepada pengadilan, kepada hukum, di dalam penggunaan kewenangan dan penunaian tugas pekerjaan.
c.       Tanggung jawab tentang segala apa yang telah diperbuat dengan kewenangan yang telah diberikan, tanggung jawab kepada organisasi berupa penyusunan serta melakukan pembukuan, dsb.
5.        Faktor Ke-lima
Faktor yang ke-lima adalah Disiplin. Tanpa disiplin yang teguh, maka pelaksanaan dari pengambilan keputusan yang manapun akan mengalami kegagalan. Disiplin pada hakekatnya adalah ketaatan, ketekunan, kegiatan, sikap-kelakuan, sikap hormat yang nampak sesuai dengan aturan-aturan yang telah disepakatkan antara badan organisasi dan pegawai-pegawainya.

D.      Implikasi Manajerial
Kata implikasi manajerial pada dasarnya berasal dari dua kata, yaitu kata impllikasi yang berarti akibat sedangkan kata manajerial berarti manajemen. Di dalam implikasi mnajerial di bagi atas 2 implikasi, yaitu:
1.        Implikasi Prosedural
Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan.
2.        Implikasi Kebijakan
Implikasi kebijakan meliputi sifat subtantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.

Referensi:
Atmosudirdjo, Prajudi. 1976. Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan. Jakarta: -

Mangunhardjana. 1993. Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kanisius.